BELAJAR BAHASA SUNDA (KEMBALI)
Sebenarnya beberapa kata tunggal atau ber-imbuhan (rarangken, dlm bahasa Sunda) yg akan kita bahas ini sudah sangatlah jarang atau bahkan langka dipergunakan di dalam sebuah keluarga ataupun di area lingkungan tempat saya tinggal. Mungkin di be2rapa daerah/ lingkungan tempat kalian tinggal masih ada yg menggunakanya atau setidaknya mendengar orang lain yg menggunakan kata itu, biasanya kata2 ini "mungkin" masih dipakai di daerah kabupaten atau kota lain di Jawa Barat yg mayoritas bersuku Sunda. Karena orang2 di perkotaan kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia dengan alasan banyaknya pendatang bersuku lain, agar cepat dimengerti ataupun alasan lain karena gengsi. Saya acungi 2 jempol jika kalian yang tinggal di kota (di provinsi Jawa Barat) tapi sangat bangga menggunakan bahasa Sunda pada keseharian nya meski sedang mengorder makanan di foodcourt, ketika memesan tiket di bioskop ataupun ketika berada di area sebuah mall sekalipun, saluuttt! Jangan biarkan jaman berteknologi modern & maju ini menggerus budaya kita yakni tatanan bahasa Sunda hilang ditelan jaman dengan cara berganti masa berganti pula bahasa!
Ohh iya, fyi meskipun kedua orangtua saya sudah tiada kurang lebih 12thn yg lalu, tapi kata2 ini masih sangat melekat dalam ingatan sampai sekarang meski beberapa ada kata yang saya lupa artinya. Berikut ada be2rapa kata2 tsb berikut saya masukan kedalam kalimat sehari2 yg sering terdengar sebagai contoh, mari kita mulai :
1. Kulan/ Kah = Apa!
Jawaban panggilan untuk anak laki2 yaitu kulan dan untuk perempuan yaitu kah. Waktu jaman dulu orangtua selalu menerapkan sopan santun kepada anak2nya dalam segala hal termasuk dalam hal yang sederhana seperti panggilan. Mungkin anak2 jaman sekarang sudah tidak ada yang diajarkan untuk menjawab kulan/ kah jika dipanggil oleh orang tuanya! Pada jaman dulu jika dipanggil oleh ortu jangan sekali2 menjawab dengan "Hah", "Naon", atau "Euy" jika tidak ingin kena lempar sendal! :P
Contoh : Orangtua yg memanggil "Ujaannngggg!!!" (Ujang, panggilan buat anak laki2) ,dan anaknya pun (laki2) menjawab "Kulaann maahh!!!" ("Appaaa buuuu!!")
2. Kereng = Kuat
Sebenarnya kata yang sederhana ini biasanya dipergunakan jika se2orang sedang melakukan aktivitas tali temali atau apapun yg berhubungan dengan membuat tali simpul, sedang mengepak barang ataupun sedang beraktivitas sebagai pencinta alam yg melibatkan tali temali. Sudah jarang sich mendengar kata ini di daerah saya, bagaimana di daerah kalian?
Contoh : Orang yang sedang memerintah "Cik euy eta pangnaliankeun cing kereng beh teu amburadul!" ("Coba itu tolong ikat dengan tali yang kuat biar tidak berantakan!")
3. Celeno = Bodoh
Dalam bahasa sunda itu sebenarnya ada pakem/ batasan tertentu, ada kata yg halus untuk orang tua agar lebih sopan dan ada juga kata yang "sedikit" kasar untuk ke seumuran ataupun sepantaran. Kata ini biasanya dipakai untuk meledek atau mengkritik seseorang karena ketidakbisaan nya akan sesuatu.
Contoh : Mengkritik seorang teman "Maneh mah celeno ikh, soal kieu oge meni teu bisa!" ("Kamu itu bodoh akh, masa soal begini juga gak bisa!")
4. Tohiyan = Tahu
Sebenarnya saya tidak tau sich arti kata ini jika tunggal karena biasanya orang jaman dulu itu selalu menggunakan kata ini dengan memakai imbuhan awal "ka-" yang berarti katohiyan atau ketahuan. Saya masih ingat kata ini ketika membaca buku bahasa Sunda waktu masih SD, bapak saya lah yang memberi tahu artinya karena saya tidak mengerti kata yang satu ini.
Contoh : Orang yang sedang mengobrol "Ahirna katohiyan oge geuningan nya ku mitoha na yen manehna teh garong!" ("Akhirnya ketahuan juga yach oleh mertua nya kalo dia itu seorang maling!")
5. Pepeh = Panas
Ada yang tahu kata ini? Dulu ketika kita waktu kecil dan sedang belajar makan sendiri, orangtua kita selalu memberi peringatan "awas" kalo ada makanan atau sesuatu yang panas itu di diamkan dulu atau di tiup dulu.
Contoh : Orang tua yg sedang memperingatkan anaknya "Awas, eta emih na masih pepeh, tiupan heula beh enggal ti'is!" ("Awas, itu mie nya masih panas, di tiupin dulu biar cepat dingin!")
6. Ki'ih = Kencing
Biasanya kata ini digunakan oleh orang tua yang geram ke anaknya tidak sebaliknya karena kata ini sedikit kasar atau kata ini bisa kita gunakan untuk diri sendiri maupun ke teman yg seangkatan. Terakhir saya mendengar kata ini kapan yach? Waktu SD mungkin!
Contoh : Orangtua yg geram kepada anaknya "Euuhhh, cik atuh ai ki'ih teh ka cai lain na dina calana wae budak teh!" ("Yaahhh, coba kalo kencing tuch ke toilet jangan di celana terus anak nich!")
Contoh : Memberi perintah kepada teman "Banjur bel ai enggeus ki'ih teh, bisi bau hangseur!!" ("Siram donk kalo udah kencing tuch, nanti bau tengik!!") :D
7. Mangsi = Tinta
Pada tahun 50'an, Sekolah Dasar (SD) disebut dengan Sekolah Rakyat (SR), mungkin orangtua/ kakek kalian ada beberapa yang mengetahui nya bahkan mengalami SR tsb. Pada jaman dulu istilah pena/ bolpoint itu tidak setenar atau mungkin belum banyak yg memiliki seperti jaman sekarang, anak2 Sunda tahun 50'an selalu menyebut alat menulis tsb dengan Mangsi alias tinta, mungkin juga kalo jaman dulu menulis itu memakai kuas yg dicelupkan ke dalam tinta, seperti orang2 di China sana! Mungkin.
Contoh : Orangtua yang memberitahu kepada anaknya "Eta ai nulis dina buku teh biasakeun make mangsi, ulah make patlot!" ("Itu kalau menulis di buku tuch biasakan memakai pena, jangan memakai pensil!")
8. Anggel = Bantal
Sudah jarang mendengar juga ada orang yg memakai kata ini, kebanyakan memakai kata yg mudah dimengerti yaitu bantal. Ini adalah salah satu alat untuk tidur favorite saya, bantal yg empuk untuk kepala dan guling yang besar untuk dipeluk! Ha :D
Contoh : Seorang anak yg sedang bercerita "Abi mah mun sare sok make anggel dua jeung guguling hiji!" ("Saya kalo tidur suka memakai bantal dua & guling satu!")
9. Derenten = Kebun Binatang
Kata serapan dari para penjajah Hindia Belanda pada jaman penjajahan dulu, ditulis Daren Tein tapi diucapkan oleh orang2 Sunda jaman dulu menjadi Derenten. Pasti orangtua jaman dulu jika mengajak anaknya ke kebun binatang selalu bermimik sumringah karena pada jaman dulu jalan2 ke kebun binatang itu merupakan wisata yg bergengsi karena tidak semua keluarga bisa kesana & rata2 anak2 kelahiran tahun 70'an pada tahu/ mengerti istilah ini, coba kalian tanyakan kepada orangtua kalian sekarang!
Contoh : Orangtua yg mengajak keluarganya "Hayyuuu engke poe minggu urang ka Derenten, urang ningali Gajah Biruang!" ("Ayyooo nanti hari minggu kita ke Kebun Binatang, kita melihat Gajah dan Beruang!")
10. Wanter = Berani
Kata ini biasanya digunakan untuk orang ke-3, lebih sering digunakan memakai imbuhan akhir "-an" mengekspresikan memuji untuk se2orang biasanya untuk seorang yang pemberani dan terkesan mandiri.
Contoh : Orangtua yg sedang mengobrol "Eta budak leutik teh meni wanteran nya, indit sakola oge tara di aanteur!" ("Itu anak kecil tuch sangat pemberani yach, berangkat sekolah juga gak pernah dianter2!")
11. Kodompol = Kucel
Biasanya digunakan untuk kata ganti orang ke-3, dipakai untuk menyindir atau menggambarkan penampilan orang ke-3 tsb dengan ekspresi sedikit mencibir & dipakai oleh orang2 yg sedang mengobrol, biasanya oleh orangtua.
Contoh : Orang ke-1 sedang bertanya "Nu mana sich salaki na teh? Abi mah can pernah ningali da!" ("Yang mana sich suami nya tuch? Kalau saya belum pernah melihatnya!") dan orang ke-2 pun menjawab "Eta geuningan nu begang jeung rada kodompol deuih!" ("Itu tuch yang kurus2 dan sedikit kucel lagi!")
12. Lisah = Minyak
Kata yang halus, biasanya digunakan orangtua jaman dulu ketika berbicara/ memerintah ke anaknya. Sangat jarang mendengarnya jaman sekarang di daerah saya, kata "Lisah tanah" ataupun "Lisah kalapa" jadi seakan langka terdengar. Apalagi minyak tanah sudah tidak ada yg menggunakannya untuk dijadikan bahan bakar kompor ber-sumbu, mungkin ada be2rapa yg masih memakainya tapi jarang.
Contoh : Seorang ibu yang memerintah anaknya "Jannggg, cik pangmeserkeun ema lisah tanah jang masak, ieu nuju kagok!!" (Naakkk, tolong belikan ibu minyak tanah buat memasak, ini lagi tanggung!!")
13. Amprok = Ketemu
Sebenarnya saya mendengar kata ini bukan dari keluarga ataupun saudara tapi dari seorang teman di tempat dulu saya bekerja, dia tuch berasal dari kabupaten Bandung. Awalnya ketika dia berbicara memakai kata ini saya sempat bingung & tidak tahu maksudnya, saya akhirnya mengetahui artinya ketika saya bertanya padanya. Biasanya memakai imbuhan awal "pa-"
Contoh : Orang ke-2 sedang berkata "Ulah ngaliwat kadinya ah bisi paamprok jeung si Ani, mantan urang!" ("Jangan ngelewat kesitu akh takut ketemu dengan si Ani, mantan saya!")
14. Tuman = Kebiasaan
Biasanya dipakai orang yang sedang memberi petuah/ peringatan atau kadang2 dipakai oleh orangtua jaman dulu yg kesal kepada anaknya yang membandel. Mungkin kakek atau nenek kalian yg bersuku Sunda masih suka memberi nasihat dengan kata ini?
Contoh : Orangtua yang kesal kepada anaknya "Mun rek ulin teh ganti heula eta saragam, lain na isuk dipake deui? Tuman pisan." ("Kalau mau main ganti dulu seragam tuch, bukanya besok dipakai lagi? Kebiasaan sekali.")
15. Kencring = Koin
Digunakan untuk kata benda jamak, pokoknya yg lebih dari satu. Biasanya kata ini dipakai oleh se2orang yg memiliki warung atau para pedagang pada jaman saya kecil dulu, untuk uang kembalian! Btw ada yang tahu koin "Benggol" tidak? Koin tebal berwarna coklat bertuliskan bahasa arab, biasanya oleh orangtua jaman dulu dipakai buat kerokan? Ada yg punya? :D
Contoh : Orang pemilik warung berkata "Yeuhh jang pulangan na, tapi bae nya ku kencring?" ("Nichh nak uang kembaliannya, tapi biar yach pake koin2?")
16. Sintreuk = Sentil
Kata yg sering digunakan oleh orangtua atau guru di sekolah jika sedang memarahi anak yg udah gak mempan pake kata2. Biasanya cuma menggertak sambil melingkarkan ibu jari ama telunjuknya siap2 mau nyentil kuping anak tsb.
Contoh : Guru yang sedang memarahi muridnya "Buru arasup ka kelas lain na arulin wae, disintreuk geura ku Bapa!!" ("Cepat pada masuk kelas bukannya bermain terus, nanti disentil sama Bapak!!")
17. Pepende = Kelonan
"Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa" Jadi teringat lagu itu kalo lagi mikirin kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, meski anaknya bandel juga pasti seorang ibu mau ngelonin anaknya pas mau tidur. Biasanya kata ini digunakan oleh orangtua kepada anaknya untuk membujuknya tidur. Emang terkesan manja tapi ini adalah salahsatu aktivitas favorite saya (siapa yg enggak coba?) waktu kecil, walau harus dimulai dengan "sedikit" rengekan.
Contoh : Seorang ibu yg berkata pada anaknya "Hayu geura bobo tos wengi, engke ku mamah di pepende!" ("Ayo lekas tidur sudah malam, nanti sama ibu di kelonin!") :'(
18. Pajeng = Payung/ Laku
Kata yang saya dengar dan tahu artinya ketika menginjak bangku sekolah karena di keluarga tidak ada yg pernah memakai kata yg sederhana ini, mungkin ini tandanya kata ini sangat klasik alias jadul. Pajeng juga sama artinya dengan Payu atau Laku dalam bahasa Indonesia.
Contoh : Orangtua yg sedang menyuruh anaknya "Ngangge pajeng atuh eneng ai bade angkat sakola mah, tos ceudeum geuning!" ("Pakai payung donk nak kalau mau berangkat sekolah tuch, sudah mendung ternyata!")
Contoh : Orang yg sedang bersyukur "Alhamdulillah, pajeng seu'eur dinten ieu mah, se'ep sadayana dagangan abi teh!" ("Alhamdulillah, laku banyak hari ini, habis semuanya dagangan saya tuch!")
19. Huis = Uban
Sebenarnya kata ini masih sering saya dengar meski saya sendiri yang sering mengatakan nya, karena udah mulai menua jadi suka liat2 cermin nich udah ada uban nya! Hehe :)
Contoh : Berbicara kepada diri sendiri "Aduuhh, enggeus kolot euy asa loba huisan bu'uk teh ayeuna mah!" ("Aduuhh, sudah tua nich jadi banyak uban rambut tuch sekarang!")
20. Pacantel = Minta Ma'af
Aktivitas favorite saya waktu kecil, tidak ada kata malu untuk meminta ma'af ketika waktu kita kecil. Marahan cuma be2rapa menit trus sudah baikan lagi, & sangat unik melakukanya juga yaitu dengan cara melingkarkan jari kelingking ke sesama teman bermain kita yg sedang bermusuhan dan itu saja karena sudah baikan lagi secara otomatis, aneh tapi manjur! Sejak kecil kita sudah diajarkan untuk tidak menjadi pendendam dan tidak gengsi untuk meminta ma'af duluan. Keren!
Contoh : Seorang anak yang meminta ma'af kepada temannya "Hayu atuh urang pacantel, engke urang ulin uucingan deui!" ("Ayo donk kita ma'af2an, nanti kita main lari2an lagi!")
Okeh, mungkin cuma itu contoh kata2 dalam bahasa Sunda yg sudah sangat langka saya dengar pada jaman sekarang, silahkan kalo kalian ada yg ingin menambahkan, kritik, saran atau apapun itu akan saya tampung kok! Hehe :P
Btw, jadi teringat kepada guru bahasa Sunda waktu saya sekolah dulu, namanya Ibu Edah beliau itu guru berjilbab & berparas cantik, sangat nyunda sekali, perawakan nya kecil, bertutur ramah dan sangat sabar mengajari murid2nya! Mungkin sekarang beliau sudah pensiun kali yach? Kalo bertemu dengan beliau sekarang saya ingin sekali berterima kasih dan kalo bisa "les privat" bahasa Sunda sekalian mau menanyakan kalo jeujeur dalam suatu kalimat itu (jeujeur = kail) yg pastinya bukan buat memancing itu, artinya Subjek ato Predikat yach? Ada yang tau?
Dan mungkin (sekali lagi) saya jadi ingin mendengar ketika seorang guru bahasa Sunda memerintahkan kita para murid di suatu kelas untuk mengeluarkan buku cetaknya, berjudul "ATIKAN BASA SUNDA" buku tipis berwarna pink dengan gambar covernya anak2 berseragam sedang berlari2 kecil di bukit berumput memegang buku tsb dengan ekspesi senang! Senang bahkan bangga akan belajar bahasa kita sendiri, yakni bahasa Sunda!!
#kangensekolah #missmyparents #sundasalawasna :D



Komentar
Posting Komentar